Pulang Kampung
Masih ingat sekali, waktu ninggalin kampung itu pas mau Maulid (atau Isra Mi'raj klo ga salah) yang jelas itu adalah tahun yang sama dengan tahun kelulusan ku dari SMP. Tepatnya dipenghujung tahun 2000. Singkat cerita, 11 tahun kemudian, dengan tanpa perencanaan lagi, karena kalau direncanakan selalu gagal, saya memutuskan utk pulkam. Lega banget rasanya, gak tau kenapa. Rasanya tidak lama meninggalkan kampung halaman. Banyak hal berubah. Yang paling terasa adalah, kotanya terasa sempit, sungguh. Padahal kenyataan tidak, saya sempat bingung, tapi teman saya kemudian memberikan jawabannya. Katanya Karena saya sudah terbiasa melihat jalan raya yang lebih besar. Hmm, benar juga.Jalan Baru, Tolitoli. Tempat nongkrong ala tepian Samarinda. Tapi yang satu ini lebih keren karena terletak dipinggir pantai dan menghadap ke Barat. Jadi, bisa lihat matahari tenggelam.
Populasinya terasa lebih sedikit dibandingkan ketika saya masih disana. pemandangannya masih tetap indah. Laut biru dan bukit yang hijau. Ideal sekali untuk dijadikan tempat rileks. Tap tidak ideal utk mencari penghidupan, hehe. Oh iya, terik mentari di Tolitoli tidak seterik di Samarinda. Kalau mau jalan-jalan siang bolong, sama sekali bukan masalah buat saya. Sudah terbiasa dengan terik matahari yang lebih panas soalnya. Teman-teman sepermainan sudah pada menjelma menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, hehe (sebenarnya gak juga sih. Dibenakku mereka tetap seperti yang terakhir kali saya temui, sulit merubahnya.
Welcome to Tolitoli, dulunya sering lewat sini tapi gak berasa apa-apa. Sekarang setelah 11 tahun meninggalkan kampung halaman. Rasanya semua tempat menjadi penting untuk diabadikan. Termasuk tempat ini.
Bendungan, Pertama kali lihat sungai Mahakam, saya langsung mengernyitkan dahi. Karena dibenak saya sungai itu identik dengan jernih dan banyak batu besarnya.
Tapi sayangnya, saya tidak bisa berlama-lama. Karena ada banyak hal yang masih harus saya selesaikan. Tinggal seminggu di Tolitoli untuk membayar kerinduan 11 tahun lamanya. Sungguh sangat tidak seimbang. Baru saja akan beranjak pergi, aku sudah merindukan kota ini. Semoga bisa pulang lagi tanpa harus menunggu 11 tahun kemudian.




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda