Jumat, 17 Februari 2012

First time survey...

Seperti biasanya, pengalaman pertama selalu membuat penasaran. Terbayang hal-hal baru yang belum pernah kita temui sebelumnya. Kali ini Allah memberikan saya kesempatan ke daerah hulu mahakam. Tepatnya ke daerah Kecamatan Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara untuk melakukan survey awal lokasi yang akan terkena dampak lingkungan kegiatan pertambangan batubara. Jalur yang saya lalui adalah Samarinda-Tenggarong-Kota Bangun-Kahala-Desa Gunung Sari-Emplasment perusahaan batubara. Melewati Samarinda-Tenggarong sudah bukan hal baru bagi saya. Tapi jalur selanjutnya yang akan ditempuh sepenuhnya baru. Tapi sayang dari Tenggarong ke Kota Bangun saya tertidur sepanjang jalan karena semalam memang saya tidur dini hari.


Mesjid Kota Bangun

Hari itu hari jumat, pertama kalinya saya sholat di mesjid kota bangun. Mesjidnya luas dan sedang dalam perbaikan pada beberapa bagian. Saya hampir tidak bisa melaksanakan sholat jumat tapi untungnya salah satu rekan mau menjagakan barang bawaan kami. Rasanya ada yang mengganjal jika tidak bisa sholat jumat padahal mesjid ada di depan mata. cukup lama menunggu anggota yang lain datang, kami akhirnya menuju ke kahala melalui anak sungai Mahakam. Jembatan yang warna kuning itu disebut jembatan Abu Nawas. Kenapa? jembatan itu tidak bisa dilantasi, tidak ada akses jalan menuju kesana. Lucu sekali.


sesampainya di Kahala, suasananya sungguh indah menurut saya. Saya merasa sedang berada di tengah hutan, tapi mobil dan motor telah menjadi salah satu jenis kendaraan yang bisa ditemui disana. saya sudah sering mendengar dan membaca bahwa sarana transportasi bagi masyarakat hulu adalah alat-alat transportasi air, dan kali ini saya benar-benar menyaksikan bagaimana lalu lintas air cukup padat.


Keesokan harinya, kami menyeberangi sungai Belayan menuju lokasi dimana kami akan mengambil beberapa sampel (air, tanah dan sosek). Sudah tampak ditepi sungai Barge Loading Conveyor milik perusahaan tambang yang sudah beberapa tahun beroperasi di daerah tersebut. Siang itu (Sabtu), kami akan melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat setempat bahwa akan ada kegiatan pertambangan batubara yang beroperasi di daerah mereka. Setelah acara sosialisasi, kami diantar ke kamar kami. Saya sungguh tidak merasa sedang ditengah hutan. Fasilitas yang ada membuat saya merasa sedang berada di hotel kecil ditengah kota. Mulai dari makanan nya (yang jauh lebih beragam dan enak dari pada yang saya konsumsi sehari-hari,hehe) hingga fasilitas lain seperti kamar yang ber-AC dan tempat bermain biliard. Untuk pertama kalinya pula seekor burung merak benar-benar ada dihadapan saya. Kenapa burung merak ini bisa ada disini? begitu gumam saya


Sungai Belayan
 

What a nice peacock

Minggu, waktunya pengambilan sample tanah, air dan sosek. Saya baru tahu kalau mengambil sampel itu ternyata melelahkan. Medannya pun berat tidak seperti yang tampak di peta. Untung saja perusahaan meminjamkan pakaian lapangan. Saya sungguh tidak siap. Apa jadinya jika saya ke lapangan menggunakan sandal jepit atau sepatu sekolah. Dijamin kesulitannya berlipat ganda, karena jalan yang kami lewati berupa tanah liat yang basah, sehingga tanah menempel dialas sepatu. Belum lagi jika ingin mengambil sampel harus masuk beberapa meter dari tepi jalan.


Lokasi pembibitan (nursery) kelapa sawit. Kami mampir untuk menanyakan jalan mana yang harus kami lewati untuk menuju sungai Pleo


mengingatkan saya film-film coboy, tiang listriknya pakai kayu




Pengambilan sample tanah, Argghh, pakai tenaga ekstra buat ngebor sampai kedalaman 60 cm
 
Pengambilan sample air, ini sih enteng banget,hehe

Karena semua yang bisa (bukan yang harus) dikerjakan telah selesai, pada hari Senin kami kembali ke Samarinda. Sepanjang jalan saya benar-benar tidak tertidur sejenak pun. Sayang rasanya melewati pemandangan yang belum tentu akan saya lewati lagi. 

Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika berlalu di pohon-pohon bakau, suasanya sepi sekali, dan permukaan air hanya sekitar 20 cm dari tepi perahu ces yang kami tumpangi. Rasanya seperti melayang di atas air.

Danau Semayang, ternyata semayang yang digunakan sebagai nama pelabuhan di Balikpapan merupakan nama Danau. Tapi saya masih bingung bagaimana air di danau semayang tidak keruh seperti air sungai belayan, padahal (kalau tidak salah) sungai dan danau tersebut terhubung.

Ditepi sungai terdapat beberapa tempat jual beli berbagai jenis ikan asin. Ternyata disini sentra ikan asin. Saya memang pernah mendengar kalau Kota Bangun merupakan tempat produksi ikan asin.

Melihat kehidupan masyarakat di hulu Sungai Mahakam yang sederhana, terbersit dihati saya, seperti inilah sebaiknya kita hidup Karena gaya hidup masyarakat kota yang cenderung berlomba menumpuk kekayaan sungguh telah menguras sumber daya alam dan merusak keseimbangan. Saya sendiri tidak mengerti, mengapa kita harus hidup di rumah yang begitu besar mewah? kenapa kita harus memiliki banyak kendaraan dan harganya mahal? kenapa kita harus makan sesuatu yang harganya relatif mahal bagi kebanyakan orang? Padahal masih banyak orang yang tinggal di tempat yang tidak layak, masih banyak orang yang tidak memilik kendaraan dan masih banyak orang yang harus bekerja sangat keras untuk bisa makan tiga kali sehari tanpa peduli apa yang bisa dia makan. Miris melihat kehidupan seperti ini saling berdampingan dalam kehidupan nyata.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda