Selasa, 01 November 2016

2014, 2015 dan 2016: Sebuah kisah, sebuah cerita

Tahun 2014, saya bekerja dengan jadwal yang sangat padat. Yang pada akhirnya menimbukan semacam trauma, ternyata pekerjaan yang sangat menumpuk membuat saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Saya berjanji, tahun 2015 saya tidak akan mau menerima pekerjaan sebanyak tahun itu.

Tahun 2015, beban pekerjaan berkurang sekitar 50%. waktu untuk lebih sendiri jadi lebih banyak. Saya kembali merasa menjadi manusia. Ya benar, bekerja terus menerus, tidak peduli malam, dini hari, hari minggu, hari libur nasional, hari libur keagamaan, sedang di pesawat, sedang di luar kota. Saya terus bekerja sepanjang waktu. Saya bahkan tidak menikmati sejumlah besar uang yang saya terima. Saya akui, saya baru mulai mengatur keuangan ketika penghasilan saya berkurang. Saya bersyukur mendapat teguran ini lebih awal. Sehingga saya bisa menata keuangan saya lebih baik jika mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Sungguh pengeluaran kecil yang diremehkan dan tidak direncanakan adalah potensi yang terbuang sia-sia.

Tahun 2015, seperti waktu yang terlewatkan atau hilang. Tidak berkesan atau kesannya tidak sekuat kesan yang ditinggalkan Tahun 2014 dan Tahun 2016. Tahun 2015, saya sebenarnya mulai mengambil ancang-ancang untuk mengatur keuangan saya agar lebih baik. Saya memulai investasi yang baru, sebidang tanah kavling, 45 menit dari Samarinda dan 15 menit dari Bandara Samarinda Baru. Namun rencana tersebut menjadi tersendat di Tahun 2016 karena kondisi keuangan yang minim. Demikian juga dengan pekerjaan, saya ingin menata pekerjaan saya di Tahun 2015. Melakukan evaluasi pada kinerja tim dan pindah ke tempat lebih kondusif. Namun juga tidak mulus. Saya keliru memilih tempat tinggal sekaligus tempat kerja yang baru. Tentu ini pelajaran berharga. Mengambil hikmah dari setiap kejadian lebih penting dibandingkan kejadian itu sendiri. Salah satu alasan memilih mencari tempat tinggal baru adalah semakin buruknya kualitas tempat tinggal yang lama, lantai dan pelapon jebol sana sini, nyamuk yang luar biasa mengganggu, dan suhu ruangan yang tidak bisa di kontrol. Selain itu, kasus kabut asap yang terjadi selama 4 bulan juga turut memperkuat alasan. Kami sempat pindah ke hotel untuk bekerja selama 3 hari karena kabut asap cukup tebal, mengganggu pernafasan dan suhu menjadi sangat panas siang maupun malam.

Tahun 2016, genap empat tahun bekerja di bidang ini. Pekerjaan sangat jauh berkurang. Justru menjadikan diri tidak disiplin, karena terbiasa di kejar dead line pekerjaan, saya menjadi semacam bingung mau ngapain ketika tidak bekerja. akhirnya saya melakukan apa yang terlintas atau apa yang sedang ingin saya kerjakan. Seperti olahraga, membaca, memasak atau menonton film. Lagi-lagi hikmahnya adalah saya memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualitas fisik saya dengan olahraga. Saya juga mencoba belajar memasak beberapa menu kesukaan, hasilnya tidak buruk, dan akhirnya saya tahu bahwa saya bisa memasak. Saya juga bisa kembali membaca dan belajar agama lagi, hal yang benar-benar saya tinggalkan sejak bekerja di bidang ini. Ternyata kita perlu mereview pengetahuan yang dulu sudah pernah kita pelajari. Karena sudah terbiasa menuruti nafsu belanja dan mengeluarkan uang tanpa perhitungan, saya menjadi kelabakan setelah kondisi keuangan seperti sekarang ini. Saya jadi mulai mencatat pengeluaran saya dan membuat rencana pengeluaran. Ini membantu saya mengatur keuangan saya. Awalnya saya membiarkan diri saya membelanjakan uang saya dengan menuruti keinginan saya. Setelah membaca kembali catatan  pengeluaran saya sekitar 4 bulan. Saya cukup shock karena mengetahui pengeluaran saya sangat besar. Berdasarkan catatan itu saya kemudian mengevaluasi pengeluaran mana saja yang harus saya eliminir. Di bulan pertama, saya berhasil menekan pengeluaran saya sebanyak 50%. Ini pelajaran berharga dan pelajaran penting. Di mulai dari mengatur keuangan sederhana sebelum mengatur keuangan yang lebih besar. Saya juga belajar mengendalikan diri. Saya berharap kebiasan baik ini berlanjut. Tahun ini sungguh berat, bukan cuma bagi saya. Tapi juga bagi kebanyakan orang. Ada banyak PHK karyawan tambang dan migas. Pemotongan anggaran pemerintah sehingga berimbas pada berkurangnya pekerjaan bagi kontraktor dan konsultan yang rutin mengambil pekerjaan di pemerintahan. Saya tidak bisa membayangkan jika ini berlanjut di tahun 2017. Semoga tahun depan lebih baik. Aamiin.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda