Telah Banyak yang Berubah
Dulu, kegiatan ke luar kota adalah kegiatan yang membuat saya bersemangat. Mengunjungi daerah baru adalah sebuah kesenangan bagi saya. Dan pasti harus terdokumentasikan. Sekarang sudah tidak lagi. Bahkan keinginan utk sekedar jalan-jalan, tanpa tujuan-membuang-buang biaya dan waktu-sama sekali tidak menarik lagi buat saya.
Dulu, karaoke, nonton di sinema 21, berenang, sekedar nongkrong dan bercakap-cakap sambil menjajal cafe yang baru buka, browsing, adalah beberapa hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Bisa menonton film-film baru lebih dulu dari teman-teman dan menceritakannya kepada mereka adalah sebuah kebanggaan. Sekarang tidak lagi, hal yang menyenangkan saat ini adalah dapat berkumpul dengan keluarga tanpa harus dibayangi oleh pekerjaan adalah liburan paling menyenangkan. Menghasilkan uang untuk menyenangkan, tapi beban pekerjaan sungguh membuat stres.
Dulu, berbelanja setelah gajian adalah sebuah kesenangan. Sekarang tidak lagi. Bukan berusaha untuk menahan diri, tapi keinginan utk berbelanja memang sudah tidak seperti dulu. Saya lebih senang melihat sisa uang di rekening saya.
Dulu, bekerja sambil mendengarkan musik adalah sebuah kesenangan. Entah pekerjaan itu adalah bersih-bersih rumah, bekerja di depan laptop atau sedang menjaga kios. Sekarang tidak lagi,bekerja di depan sambil laptop sambil mendengarkan musik justru mengganggu konsentrasi.
Telah banyak berubah, berubah secara alami...
2014, Luar Biasa
Satu tahun ke belakang banyak pencapaian yang patut disyukuri. Satu tahun ke belakang begitu sarat makna kehidupan. Satu tahun ke belakang rencana Allah lah yang lebih banyak terjadi. Memang tiada daya upaya manusia.
Di awal tahun di mulai dari 'kegilaan' untuk melamar seseorang padahal belum pernah bertemu sekalipun. Lalu dua minggu kemudian lamaran tersebut diputuskan sepihak. Tapi selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, selalu. Ya, karena ada niat untuk melamar itulah sehingga saya akhirnya pertama kali menjejakkan kaki di Sulawesi Selatan, tanah bugis, sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga besar disana. Saya orang bugis yang di lahir di perantauan. Masih di awal tahun, akhirnya kejenuhan itu memuncak dan akhirnya memutuskan untuk resign setelah bergabung 1,5 tahun dengan Perusahaan lama saya. Dua keputusan tersebut-melamar anak gadis orang dan resign dari perusahaan yang memberi saya penghasilan yang lumayan-adalah dua keputusan besar yang pernah saya buat. Di pertengahaan tahun ada pencapaian yang tidak direncanakan sebelumnya, Alhamdulillah lulus ujian kompetensi sebaga tenaga ahli penyusun Amdal.


Kelulusan ini pun punya cerita sendiri. Saya tidak memiliki rencana untuk mengikuti ujian karena: 1) tidak memiliki biaya untuk ikut ujian dan 2) saya baru 1,5 tahun menekuni bidang ini. Pengalaman saya masih minim sekali. Belum lagi beberapa pengalaman senior saya yang harus ikut kursus dengan biaya 14 juta selama 40 hari dan mengulang ikut ujian hingga 3 kali untuk lulus ujian ini.
Saya baru menyiapkan berkas utk mendaftar menjelang penutupan pendaftaran, karuan saja saya tidak mendapatkan kuota untuk ikut ujian. Sehingga ditunda hingga satu bulan ke depan. Bulan selanjutnya, terjadi kesalahan sehingga nama saya masih belum terdaftar, sehingga saya harus meminta tolong teman yang berada di Samarinda untuk membantu melengkapi data saya-karena saya waktu sedang berada di luar kota. Hingga tiba akhirnya keberangkatan, saya hampir ketinggalan pesawat karena sedang sholat saat panggilan naik ke pesawat. Saya lupa membawa kemeja lengan panjang krn tidak membaca peraturan untuk ikut ujian, sehingga tiba di Jakarta saya harus langsung membeli baju lengan panjang dan dasi. Saya baru maksimal belajar malam sebelum ujian, karena pekerjaan sedang padat-padatnya. Setelah mengikuti ujian, saya tidak yakin akan lulus, jadi saya langsung berkemas untuk pulang dan check out dari penginapan, tapi Allah berkehendak lain, saya lulus ujian tertulis dan lanjut ujian wawancara.
Maha Kuasa Allah. Pekerjaan konsultan lingkungan ini tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, bahkan saya sudah tidak ingin untuk lanjut di pekerjaan ini sejak pertama kali saya bekerja.
Setelah terakhir kali pulang kampung pada tahun 2011, Alhamdulillah pada tahun ini diberikan rejeki dan kesempatan untuk pulang kampung lagi. Kali ini bersama dua saudara yang lain. Suasananya jadi berbeda dibanding waktu pulang kampung hanya sendirian. Kali ini kami bisa saling berbagi kenangan. Agenda pulang kampung ini juga tidak direncanakan sama sekali.
Selanjutnya hingga akhir tahun yang saya ingat hanyalah sesak oleh pekerjaan. Pekerjaan tidak putus-putusnya, Satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Belum pernah saya melewatkan hari raya sambil bekerja, baru pada tahun 2014, karena begitu padatnya jadwal saya. Menunda, berarti akan menumpuk di kemudian hari. Biasanya, agenda ke luar kota untuk presentasi sekaligus menjadi kegiatan liburan bagi saya, tapi tahun lalu, saya selalu mencuri-curi waktu untuk bekerja meski sedang di luar kota.
Hingga tak terasa akhir tahun menjelang. Di ujung tahun, buah dari bekerja keras berbulan-bulan, akhirnya terbayarlah beberapa hutang yang sudah cukup lama ditanggung. Di akhir tahun, ada rejeki untuk mengikuti kursus Amdal A. Di akhir tahun memberanikan diri untuk membeli secara cicil sebuah tanah kavling. Di akhir tahun, hujan terus mengguyur, semangat kerja menurun drastis. Alhamdulillah, honor menyusun beberapa dokumen cair bersamaan. Hingga akhir tahun, tersisa sejumlah uang yang belum pernah saya miliki sebelumnya.
2014, Luar Biasa.