Sukses Itu Sebuah Konsekuensi Logis
saya sangat sering merenungkan makna kata SUKSES belakangan ini. Bukan hanya definisinya, tapi substansinya. Sukses mungkin didefiniskan dengan menjadi kaya raya atau menjadi terkenal. Tapi yang paling bijak menurut saya adalah pengertian sukses menurut Aa Gym. Sukses menurut beliau adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat. Artinya, secara dunia kita 'mungkin' terkenal dan kaya, dan kita juga tetap menuntut kehidupan akhirat misalnya dengan banyak beramal dan membantu sesama. Sulit sekali tentu untuk menyeimbangkan keduanya. Tapi itulah sukses, apa gunanya kaya jika ternyata kekayaan hanya membawa kita pada kesengsaraan di akhirat. Tentu yang lebih baik lagi adalah kaya di dunia dan mendapat pahala yang berlimpah pula diakhirat.
Sukses Bukan Hanya Tentang Sesuatu yang Waahh
Sukses menurut saya tercapainya target kita. Jadi sukses itu tidak hanya tentang hal-hal besar melulu. Dengan pengertian itu bisa sukses setiap saat dan kapan saja. Misalnya sukses bangun pagi, sukses menjalankan ibadah, sukses tepat waktu, sukses menyelesaikan tugas, masih banyak lagi hal yang membuat kita sukses jika kita berhasil mencapainya.
Sebuah Konsekuensi Logis
Sukses dulu bagi saya seperti sebuah keajaiban, tapi seiring berjalannya waktu saya yakin sukses itu merupaka konsekuensi logis dari apa yang kita lakukan. Akankah seorang bill gates akan menjadi orang terkaya di dunia jika dia benar-benar tidak pernah memulai untuk membuat microsoft.? Akan kah valentino rossi akan menjadi seorang juara moto GP jika dia benar-benar tidak pernah mengendarai motor 800 cc? Begitu juga dengan orang-orang sukses yang lain. Jadi salah satu syarat untuk sukses adalah dengan MELAKUKAN,.
Hanya Untuk yang Pantang Menyerah
Khusus untuk kesuksesan-kesuksesan besar. Biasanya diraih setelah beberapa kali. Atau bisa juga dengan keterbatasan. Misalnya Thomas A. Edison baru berhasil setelah gagal sebanyak sebanyak 9.999 kali. Hah,,,gak salah? memang sulit dipercaya. Tapi itulah kenyataannya. Atau mungkin Bethoven yang merupakan salah satu musisi terbesar di bum (bukan di planet lain, itu juga klo di planet lain ada musisinya) ternyata orang yang tuli. Tapi tidak menghalangi dia untuk menciptakan karya-karya besar.
Diperoleh Hal-Hal yang Memang Disukai
Apa yang membuat orang bisa terus mau mencoba walaupun berulang kali gagal? Saya pikir karena orang tersebut menyukai apa yang dia lakukan dan percaya bahwa apa yang dia lakukan akan menjadi sesuatu yang besar. Sehingga penting bagi kita menyukai hal-hal yang baik. Apa ukurang dari baik atau tidaknya sesuatu? tentunya bukan standar yang dibuat oleh manusia. Karena pemikiran manusia sangat terbatas, sehingga seringkali apa yang dianggap baik hari ini, dapat berubah menjadi tidak baik di kemudia hari. Karena itu hanya anggapan, bukan BAIK yang sesungguhnya. Tapi jika standar baik itu berasal dari Allah, maka itu pasti berlaku umum dan selamanya.
Label: Motivasi
UAN, penting atau gak penting
Diantara ujian akhir kelulusan,,ujian akhir kelulusan waktu SMA adalah yang paling menegangkan. Enggak tahu alasan pastinya kenapa, mungkin karena waktu SMA prestasi akademis selalu bagus, jadi akan sangat memalukan jika sampai tidak lulus. Aneh, walaupun sudah intens belajar dan mengerjakan soal-soal latihan masih saja tidak PeDe untuk mnghadapi UAN. Makanya gak heran kalau tiap tahun UAN selalu jadi momok. Dulu tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk mengkritisi pendidikan, itu karena saya asik dengan dunia sendiri. Tapi belakangan, sejak mulai menjadi pengajar prifat. Saya menemukan kenyataan bahwa banyak siswa saya yang kesulitan berkonsentrasi (bukan bodoh), sehingga tidak mampu memahami apa yang disampaikan, ada yang kesulitan dengan angka-angka, dan ada yang kesulitan dengan logika, bahkan logika yang sederhana sekalipun. Itu dulu tidak aneh, tetapi sekarang saya sangat memakluminya. Memang tidak bisa dipaksakan. Yang saya pahami, setiap manusia adalah unik. Dan kecerdasan itu tidak selalu identik dengan pelajaran tertentu. Misalnya orang yang bisa mengerjakan berbagai soal matematika sering dianggap pintar, atau orang yang mampu menggunakan bahasa asing juga sering dianggap sebagai orang yang pintar. Padahal pintar itu relatif, pintar dalam suatu mata pelajaran, belum tentu pintar juga dalam pelajaran lainnya. Kalau memang pintar dalam berbagai pelajaran, bagaimana dengan kemampuan olahraga, fisik dan interaksi sosial. Saya belum pernah bertemu dengan orang yang begitu sempurna, memiliki kemampuan olahraga, ber-kesenian, akademis dan religius. Biasanya orang menonjol hanya pada satu atau beberapa bidang, tidak pada semua bidang.
Yang sangat disayangkan saat ini, pendidikan kita kurang mengakomodir itu.. Sistem pendidikan saat ini seolah ingin menyamaratakan kemampuan kita. Dan memaksa kita untuk menguasai pelajaran-pelajaran tertentu yang betul-betul tidak bisa kita mengerti. Saya pikir akan lebih baik jika kita bisa memilih pelajaran apa yang kita sukai, dan serius memplejarainya sehingga kita bisa betul-betul menguasainya dalam usia yang masih muda. Kebanyakan kita kanmenjadi ahli pada bidang tertentu di usia yang sudah tidak muda lagi. Karena masa muda kita dihabiskan sebagian besar untuk menekuni apa yang menjadi kelemahan kita.
UAN juga bagi saya adalah sesuatu yang menggelikan. Apa sebenarnya maksud diadakan UAN? Untuk mengetahui kualitas pendidikan sekolah tertentu, jika sudah tahu lantas apa tindak lanjutnya? setahu saya tidak ada? Selain itu bagaimana mungkin kita mengukur kualitas dengan ujian pada mata pelajaran tertentu, kenapa palajaran itu yang dijadikan standar?
Begitu kejadian-kejadian tragis terkait UAN. Ada yang bunuh diri karena tidak lulus, ada sekolah dan guru yang berlaku curang untuk mendongkrak kelulusan, doa bersama di kuburan, pingsan ketika ujian, dan banyak lagi. kalau pun ujian nasional itu ada baiknya, tapi lebih banyak tidak baiknya menurut saya.
Label: Pendidikan