Jumat, 30 Juni 2017

Uang Tdk Bisa Menyelesaikan Riba

*MENGHINDARI RIBA* _bukan dengan cara mengubah *sistem bank menjadi tidak RIBA..*_
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
untuk apa kita berjuang (memikirkan / bertindak) untuk sesuatu yg hanya membuang energi..

Untuk apa juga protes ke pemerintah dan bersikap selalu menyalahkan..

padahal kita bisa pilih
mau *kredit* atau *sabar dulu..*

ingat bahwa sebagian besar (90% lebih) orang berhutang  # *bukan karena mereka terjepit kebutuhan*
(kena musibah  / sakit / hutang untuk makan dll)

hampir semua orang menempuh pembayaran kredit, untuk:

🚕 *kepemilikan kendaraan* ( _padahal naik umum / beli second semampunya bisa_)..

🏘 *kepemilikan rumah* ( _padahal bisa sewa, atau bangun bertahap jika bersabar_)

💰🗂 *modal usaha*
( _padahal ada banyak pilihan usaha, dan bisa dimulai dgn seadanya dulu_)

naa..

jika mau berperang dengan riba, maka *tanamkan* di diri sendiri dan anak cucu kita kelak, *bahwa riba itu dosa dan rugi besar..!*

hal diatas jika dilakukan dengan sungguh2 maka menyita banyak waktu dan konsentrasi kita..

sehingga tidak sempat lagi kita berfikir diluar wewenang dan kekuasaan seperti "mengubah sistem bank / protes ke pemerintah / dll)..

sekali lagi lebih baik energi disalurkan untuk hal2 yg lebih kecil skalanya dan bisa kita kuasai.. yaitu diri sendiri dan keluarga.....

_jika sudah terbiasa_ , *maka lanjut ..*bantu orang sekitar, yg terjerat RIBA.

*bukan* dalam bentuk *uang*
karena *uang tidak menyelesaikan hutang*

YAAA..
orang yg terjerat RIBA, jika diberi UANG atau diberi *pinjaman tanpa riba..* dia akan kembali berhutang lagi.. dengan jumlah yg lbh besar

_hanya sebagian kecil yg mampu menahan diri_

masalah terbesarnya *bukan uang*tetapi *kebiasaan hutang!*

maka menurut saya, untuk apa kita mengubah bank menjadi syariah 100%.. _(cita-cita)_

dan mempertahankan mindset *"kalau ga hutang ga punya apa2"*

mindset tersebut *KELIRU*..!!
justru hutang membuat:

✅ kebiasaan mengambil  keputusan pendek dalam membeli sesuatu.
✅pikiran tidak kreatif, karena 80% porsi berfikir digunakan untuk kejar setoran jatuh tempo.
✅ jadi manja, saat ada keperluan besar pikiran tertuju ke hutang .
✅sulitnya mengatur uang , karena uang belum kita terima sdh kita potong untuk alokasi angsuran.

yaa.. saya dan anda tidak perlu pinjaman tanpa riba..

jadi jangan pernah berharap adanya lembaga keuangan yg menyediakan pinjaman tanpa riba.

_kalaupun ada lembaga keuangan suatu saat nanti yg menyediakanya_, *itu bukan* untuk anda, tapi untuk *fakir miskin* dan  *dhuafa*.

tulisan ini hanya mengingatkan
bahwa *anda mampu lebih baik dari mereka..*

jika mau perang melawan riba
lawan dulu *mental* dan *kebiasaan hutang*dari diri sendiri keluarga dan masyarakat yg mulai sadar akan hal tersebut.

semoga kita semua dijauhkan dari kondisi terjepit, dan Allah senantiasa melimpahkan berkah pada rizki yg kita terima.

aamiin
Baarokalloh..

#copas

Selasa, 27 Juni 2017

Asuransi yang diperbolehkan


Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustaz Ahmad yang dirahmati Allah swt,
Saya berkeinginan untuk mengambil asuransi jiwa, asuransi kesehatan maupun asuransi kerugian. Yang ingin saya tanyakan, asuransi yang seperti apakah yang dibolehkan dalam Islam?

Mohon penjelasannya.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Meski sudah memasyarakat dan lazim digunakan orang di seluruh dunia, namun kalau kita mau jujur dengan hati nurani, sebenarnya ada banyak kelemahan dalam asuransi yang kita kenal. Di antaranya adalah:

a. Asuransi Mengandung Unsur-unsur Tidak Pasti

Ketidakpastian yang dimaksud adalah antara peserta dengan perusahaan sama-sama tidak tahu, berapa yang harus dikeluarkan dan berapa yang akan didapat. Bisa jadi seorang peserta asuransi berharap akan bisa mendapat banyak dari klaim, tapi bisa juga tidak mendapat apa-apa.

Akad ini berarti mengandung jahalah yang diharamkan dalam agama. Di mana penjual dengan pembeli sama-sama tidak tahu keuntungan dan kerugian masing-masing. Karena masih sangat bergantung dengan banyak kejaidan.

b. Premi Diputar dalam Investasi dengan Sistem Ribawi

Perusahaan asuransi konvensional membenamkan dananya dengan sistem ribawi. Uang premi yang terkumpul dari peserta akan diinvestasikan dengan cara haram. Karena itu hasilnya pun merupakan uang riba yang haram juga.

Bila peserta asuransi mengajukan klaim, tentu saja uang hasil klaim itu bersumber dari investasi ribawi.

c. Asuransi mengandung unsur pemerasan

Seringkali terjadi dalam sebuah kesepakatan yang terlalu tebal, seorang peserta asuransi tidak mampu memahami secara menyeluruh isi perjanjian. Sehingga dalam banyak kasus misalnya, apabila peserta tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi.

Di sini sangat terasa unsur pemerasan oleh pihak perusahaan asuransi kepada peserta.

e. Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai

f. Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah

Sehingga dengan segala kekurangan ini, banyak ulama yang mengharamkan kesertaan kita dalam perusahaan asuransi konvensional. Sebab asuransi yang begini lebih dekat kepada sebuah perjuadian.

Sebagai alternatif dan solusi yang jitu, cerdas dan sesuai syariah, sebaiknya kita mengikuti program asuransi yang resmi menggunakan sistem syariah. Sebab asuransi syariah ini sudah dikaji secara mendalam oleh para ulama, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta sudah difatwakan kehalalannya.

Asuransi syariah memiliki beberapa ciri utama:

1. Akad asuransi syari'ah adalah bersifat tabarru', sehingga tidak mengenal premi melainkan infaq ata sumbangan. Dan sumbanganyang diberikan tidak boleh ditarik kembali.

Atau jika tidak tabarru', maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba.

2. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama'ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).

3. Dalam asuransi syari'ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jama'ah seperti dalam asuransi takaful.

4. Akad asuransi syari'ah bersih dari gharar dan riba. Sebab perusahaan asuransi diharamkan berinvestasi dengan cara konvensonal yang ribawi. Hanya boleh menggunakan sistem syariah, yaitu bagi hasil.

Selain itu jenis usahanya pun harus dipilih yang halal, tidak boleh misalnya untuk pabrik minuman keras, rokok, usah hiburan maksiat dan sebagainya.

5. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.

Dan dari segi keuntungan duniawi maupun ukhrawi, asuransi syariah memiliki keunggulan. Antara lain:

a. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

b. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

c. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

d. Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

e. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

f. Adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sabtu, 24 Juni 2017

Kenapa Ada Orang Rajin Beribadah Tapi Tak Berakhlak

Saudaraku. Pernah ada sebuah pertanyaan menarik, mengapa ada sebagian orang yang rajin beribadah di masjid atau pun rajin mencari ilmu agama bahkan sebagiannya menyampaikan ilmu, tetapi sikap dan perilakunya tidak seindah ibadah atau ilmu yang dimilikinya?
Misalnya ada suami yang rajin salat dan saum, tapi rajin pula berbuat dosa. Ada yang berjilbab bagus dan lebar, tapi kelakuannya masih berghibah, fitnah, juga mencuri. Ada ibu yang rajin pergi ke majelis taklim, tapi sepertinya tetap tidak membaik akhlaknya. Atau, kata anaknya, “Bapak saya kalau berdebat tentang dalil luar biasa, tapi emosional.”
Contoh lain, ada yang suka berceramah tapi sikapnya jauh dari apa yang diceramahkan. Atau seperti ada yang bilang, “Dia itu ustaz tapi kok suka maksiat!” Ada juga yang akrab dengan Allquran, bahkan hafal sebagian Alquran, tapi terus saja melakukan hal-hal yang sudah diperingatkan di dalam Alquran.
Juga ada yang dekat dengan ulama atau tinggal di pesantren bertahun-tahun, tapi akhlaknya tetap tidak membaik. Pergi ke pengajian seperti makan obat (tiga kali sehari), dekat dengan sumber ilmu dan dekat dengan masjid, tapi tetap saja tidak jujur. Atau, malah ada yang menjadi pengurus masjid sekaligus menjadi pencuri uang masjid.
Nah, terus terang Aa tegang membahas persoalan ini. Sebab saat membahasnya, Aa juga sambil memikirkan kelakuan Aa sendiri. Tetapi karena hal ini amat penting bagi masing-masing diri kita, mari kita coba melihat tiga hal yang menyebabkannya.
Pertama, hatinya memang cinta dunia. Sehingga ilmu agama dan ibadahnya itu untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan. Rajinnya beribadah atau mencari ilmu bukan untuk mencari kedudukan di sisi Allah SWT, tapi untuk mencari kedudukan di depan orang/makhluk.
Seperti yang rajin ibadah di hatinya ingin dianggap saleh atau salehah, dipuji sebagai ahli masjid, dikagumi sebagai aktivis pengajian, hijabers dan sorbanbers. Demikian dengan yang rajin mencari ilmu, karena di hatinya ingin dianggap sebagai orang yang paham agama, mendapat gelar sarjana keagamaan, dipanggil ustaz atau ustazah, hafiz dan hafizah, dan sebagainya.
Ibadah dan ilmu yang diupayakan tidak ada urusan dengan rida Allah SWT, tapi untuk mencari kedudukan di sisi makhluk. Di hatinya adalah pencari dunia dengan amalan akhirat. Padahal Allah sudah pasti mengetahui. “Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. al-Mulk [67]: 13)
Kalau kita bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mencari ilmu untuk meraih rida-Nya, maka Allah sudah berjanji dalam surat al-‘Ankabût [29] ayat 69, “Dan orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Kalau Allah sudah menuntun kita, ilmu dan ibadah pun akan berbuah akhlak yang baik.
Oleh sebab itu, saudaraku, mari kita berhati-hati. Jangan mudah merasa senang disebut ustaz, ustazah, saleh, salehah, dan sebagainya. Misalkan ada yang dipanggil hafiz atau hafizah, langsung berkembang biak hidungnya (bangga). Yang begini sudah cinta dunia namanya. Padahal Allah mengetahui kalau dia tidak hafal semuanya. Dari yang dihafal sebagiannya juga sudah lupa, sedang yang masih hafal belum diamalkan.
Seharusnya ketika dipanggil hafiz atau hafizah, kita malu luar biasa di hadapan Allah SWT. Bukan sebaliknya, malah merasa puas dengan sebutan itu. Hal ini bukan berarti tidak boleh dipanggil hafiz atau hafizah. Tetapi jangan sampai kita termakan olehnya, sehingga sebutan hafiz atau hafizah menjadi tujuan menghafal Allquran.
Kedua, merasa mengamalkan dengan mengetahui. Maksudnya seakan-akan kita sudah mengamalkan ketika tahu ilmunya. Misal ada yang tahu ilmu tentang sedekah, lalu ia mengajak orang-orang, “Ayo dong sedekah!” Bahkan sampai berkeliling mengumpulkan, tapi ia sendiri tidak bersedekah. Ia merasa sudah beramal dengan ilmunya.
Saudaraku. Sekarang ini, yang begini amatlah banyak. Seperti ada yang langsung merasa saleh setelah lulus pesanteren. Atau, lulus IAIN maupun sekolah sarjana agama Islam lainnya, yang dengan pengetahuan agamanya selama kuliah tiba-tiba merasa berbeda dengan yang bukan sarjana agama. Padahal titel “sarjana agama” itu menurut kampus, santri itu menurut pesanteren, sedangkan dalam pandangan Allah SWT berbeda lagi urusannya.
Kita harus berhati-hati dengan penyebab kedua ini. Kita kadang merasa sudah beramal dengan tahu ilmunya, padahal inilah titik lemahnya. Bahwa iman itu baru menguat kalau ilmu diamalkan. Ilmu yang diketahui harus kita mujahadahkan untuk diamalkan. Bila tidak, jadilah kita orang yang berilmu dan ibadahnya sepertinya rajin, tapi akhlaknya buruk.
Contoh, setelah kita mendapat hadis tentang senyum, mujahadahkanlah senyum kita. Saat dapat hadis tentang menahan amarah akan diberi surga, maka tahan dan kendalikan amarah kita dari hari ke hari. Jangan malah setelah membaca tulisan ini misalnya, saudara berkata, “Benar Aa, tapi kini saya sudah saleh sungguhan dibanding mereka yang belum membaca ini.” Padahal mujahadahnya saja belum.
Mujahadah itu kesungguhan kita untuk mengamalkan. Misalkan kita punya ponsel yang ada internetnya, dan suka dipakai untuk melihat pornografi. Maka mujahadahnya adalah tidak usah lagi membeli kuota internet, atau sekalian ponsel diganti dengan yang tidak ada internetnya sampai sudah disiplin tidak membuka yang begitu. Di samping melatih diri untuk lebih rajin pergi ke masjid. Bukan mujahadah kalau hanya tobat, tapi fasilitas yang bisa dipakai maksiat tetap kita siapkan sehingga bisa kembali mencari peluang.
Jadi, saudaraku. Ayo kita bermujahadah untuk mengamalkan ilmu yang didapat. Kurang mujahadah mengamalkan ilmu akan membikin mendadak merasa saleh dengan gelar atau ilmu yang diketahui. Sehingga akhlak pun memburuk, berbanding terbalik dengan ilmu yang dimiliki.
Yang ketiga, ujub. Ujub merupakan faktor yang paling fatal. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadis riwayat Imam ath-Thabrani, bahwa ada tiga hal yang membinasakan, yaitu, “Satu, kekikiran yang dituruti; dua, nafsu yang diperturutkan; dan yang ketiga adalah ujub.”
Dalam hadis riwayat Imam al-Baihaqi, Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa bagi orang yang berharap ampunan Allah SWT, maka dia akan mendapat rahmat-Nya. Tetapi bagi orang yang ujub, dia akan mendapat murka-Nya.
Terkait pembahasan di sini, misalkan saat kita pergi salat ke masjid dan dalam perjalanan hati merasa berbeda melihat rombongan tetangga yang belum mau ke masjid. Lalu dalam hati, “Ya, Allah, ampunilah mereka, berilah mereka hidayah dan taufik-Mu.” Padahal Allah mengetahui kalau kita sendiri di masjid tidak ingat kepada-Nya, salat kita tidak khusyuk, ngaco, dan tidak ingat apa-apa pada yang sedang dibaca oleh imam salat.
Atau, saat salat tahajud. Misalnya sedang i’tikaf di masjid, lalu pukul dua dia bangun dan melihat yang lain masih tertidur. Dia pun senang sambil berharap yang lain kesiangan semua. Dia tidak mau ada yang bangun salat tahajud menyainginya, karena dia ingin saleh tunggal. Hatinya yang sudah bermain itulah ujub.
Demikian dengan yang berilmu. Dengan ilmunya dia melihat orang lain bodoh semua. “Yang ini sesat, yang ini bid’ah! Kasihan, mereka yang bodoh-bodoh ini akhirnya juga harus masuk neraka.” Padahal ilmu itu tidak ada apa-apanya bila tidak berbuah akhlakul kharimah. Ilmu tidak ada artinya bila tidak berbuah takut kepada Allah, Pemilik segala-galanya.
Orang yang ujub itu tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Sehingga omongannya juga cenderung tidak nyaman. Walaupun berdakwah, dengan ketidaknyamanannya dia akan menumpahkan nafsu dalam kata-katanya. Orang yang mendengarkan pun tidak nyaman, kecuali yang penyakitnya sama.
Dalam berdakwah ada ujubnya sendiri. Seperti ada yang merasa seakan-akan jadi mulia dengan banyaknya jemaah yang datang. Padahal belum tentu, karena konser-konser musik malah sampai puluhan dan ratusan ribu penontonnya. Sangat bisa jadi ulama yang santrinya hanya dua orang, derajatnya tinggi sekali di sisi Allah. Disebabkan ulama itu ikhlas, hanya mengharap rida-Nya.
Sebagaimana dalam sebuah hadis qudsi disebutkan tentang orang yang terbunuh di medan juang dan merasa dirinya berjihad. Tetapi tidak diterima oleh Allah, karena hatinya ingin disebut pejuang atau pahlawan. Begitu dengan yang berdakwah ataupun yang hafal Allquran. Dakwah dan hafalannya tidak diterima Allah, tapi malah jadi ahli neraka. Karena hatinya ingin disebut hafiz atau hafizah yang mengesankan, atau ustaz keren yang menggetarkan jiwa yang tabligh akbarnya dipenuhi lautan manusia.
Nah, saudaraku. Demikian tiga hal yang menyebabkan ada yang rajin beribadah atau berilmu, tapi akhlaknya tetap tidak indah. Semuanya itu karena memang bukan Allah yang menjadi tujuan ia beribadah dan mencari ilmu. Tanpa menjadikan Allah sebagai tujuan, mau seberapa banyak ilmunya dan seberapa rajin pun ibadahnya, akhlaknya tetap tidak berubah.
Walaupun hebat dakwahnya atau lancar hafalan Allqurannya, kelakuannya tetap tidak sesuai dengan yang diucapkan. Walau puluhan tahun tinggal di pesanteren, jadi pengurus masjid, atau ikut pengajian, tetap saja pembohong, mencuri, suka berghibah dan maksiat. Walau seumur hidup jadi pengurus zakat, atau penulis dan penyetak anjuran sedekah, infak dan wakaf, tapi tetap pelit dan berhati miskin. Karena tujuannya memang bukan meraih rida Allah.
Bila Allah yang menjadi tujuan, yang dicari pasti kedudukan di sisi-Nya. Betapa dunia sudah tidak menarik. Yang dirindukan adalah ampunan dan rahmat-Nya. Penuh harap bisa pulang khusnul khatimah, dan bisa bertemu dengan-Nya di akhirat. Kalau Allah sudah memenuhi hati, yakinlah bahwa hidup pasti dituntun oleh Pencipta, Penguasa lagi Penentu segala-galanya.
Jadi, setelah membaca tulisan ini, mari periksa hati kita masing-masing. Sudah benarkah tujuan kita dalam beribadah dan mencari ilmu selama ini? Benarkah Allah SWT yang menjadi tujuan hidup kita? (KH. Abdullah Gymnastiar)
Sumber...