Rabu, 09 November 2011

Naik Kapal Lagi

Untuk yang ketiga kalinya aku naik Armada laut (Pertama, Tolitoli_Balikpapan; Kedua, Balikpapan-Tarakan & Ketiga, Balikpapan-Tolitoli). Jadi udah lumayan pengalaman. Jangan bawa barang banyak-banyak, karena akan beberapa kali dipindah-tempatkan. Bawaan yang banyak juga jadi rawan tercecer kalau penumpang kapalnya lagi rame. Jangan lupa bawa obat diare. Penyakit itu bisa datang kapan saja, dan cukup membahayakan jika kehilangan cairan dalam jumlah besar. Bawa persediaan cemilan, terinspirasi dari teman KKN ku dulu. Dia bawa satu tas ransel khusus cemilan. Awalnya saya pikir itu berlebihan, tapi ternyata sangat berguna. Soalnya makanan di kapal mahal-mahal. Minuman kemasan rata-rata 10 ribu. Makanan yang dibagikan juga kurang layak dimakan. Ikannya masih ada sisiknya, nasinya kurang matang. Jadi memang penting banget bawa persediaan cemilan. Oh iya, bawa beberapa buku bacaan juga. Di kapal kan pengap dan panas jadi susah tidur. Kalau saya kan suka baca, jadi supaya gak suntuk, ya baca-baca buku aja.

Seingat saya dulu waktu naik KM. Bukit Siguntang ke Tarakan, di Kafe-nya gak disediain TV deh. Kalau di KM. Umsini, di Kafe-nya ada TV-nya. Yah,lumayan menghilangkan suntuk. Sore, sehabis mandi dan solat untuk kesekian kalinya aku ke Kafe lagi untuk nonton. Biasanya saya tidak suka nonton JUST ALVIN, tapi kali ini acara ini sedikit menarik karena bintang tamunya celebrity chef. Dan mereka ditantang dengan sebuah game, masak estafet, setiap 10 menit mereka bergantian memasak dengan bahan yang ada dan tanpa komunikasi. SEERRRUUU,,, Saya juga baru tau profil celebrity chef yang lain, dengan gaya masaknya masing-masing. Ada yang mengusung healthy and hygiene food, cook is simple, masakan nusantara, dan europe style.

Begitu masuk pada sesi diskusi, ada beberapa potongan cerita yang menarik. Misalnya cerita Farah Queen, dia ternyata kuliah di Amerika untuk mengambil gelar sarjana di bidang ekonomi. Tapi kemudian dia mengikuti kecenderungannya untuk belajar memasak. Akhirnya dia mengambil kuliah lagi dibidang tata boga. Karena orang tuanya tidak mendukung, dia pun harus bekerja untuk membiayai sendiri kuliahnya. Pekerjaan apa saja dia lakukan, bahkan pelayan restoran. Dia juga pernah bekerja di dapur profesional. Dimana produksi makanan dalam skala besar. Tidak hanya bahan, tapi juga alatnya. Sungguh bukan pekerjaan ringan bagi seorang perempuan. Jadi, dia menjadi seperti sekarang ini tidak dengan cara instan. Hampir sama dengan Edwin Lau, dia juga pernah kerja di dapur profesional. Pernah ditendang, dihardik, dan dimaki. Tapi itu yang membuat dia seperti sekarang. Kata Farah Queen, ada dua kata kunci suksesnya "Focus and Work Very Hard". Gak nyangka dibalik keanggunannya, dia punya ketegaran luar biasa. Di Negera lain, pemerintah memberi support pada bidang kuliner, karena kuliner juga merupakan salah satu daya tarik wisata.



Well, kesimpulannya SUKSES ITU SEBUAH PERJALANAN DAN KERJA KERAS


Talk about eat, is not always about food. It also mean motivation. So many people have healthy body, but they look sick because they have no spirit.

Minggu, 06 November 2011

Pulang Kampung

Masih ingat sekali, waktu ninggalin kampung itu pas mau Maulid (atau Isra Mi'raj klo ga salah) yang jelas itu adalah tahun yang sama dengan tahun kelulusan ku dari SMP. Tepatnya dipenghujung tahun 2000. Singkat cerita, 11 tahun kemudian, dengan tanpa perencanaan lagi, karena kalau direncanakan selalu gagal, saya memutuskan utk pulkam. Lega banget rasanya, gak tau kenapa. Rasanya tidak lama meninggalkan kampung halaman. Banyak hal berubah. Yang paling terasa adalah, kotanya terasa sempit, sungguh. Padahal kenyataan tidak, saya sempat bingung, tapi teman saya kemudian memberikan jawabannya. Katanya Karena saya sudah terbiasa melihat jalan raya yang lebih besar. Hmm, benar juga.

Jalan Baru, Tolitoli. Tempat nongkrong ala tepian Samarinda. Tapi yang satu ini lebih keren karena terletak dipinggir pantai dan menghadap ke Barat. Jadi, bisa lihat matahari tenggelam.

Populasinya terasa lebih sedikit dibandingkan ketika saya masih disana. pemandangannya masih tetap indah. Laut biru dan bukit yang hijau. Ideal sekali untuk dijadikan tempat rileks. Tap tidak ideal utk mencari penghidupan, hehe. Oh iya, terik mentari di Tolitoli tidak seterik di Samarinda. Kalau mau jalan-jalan siang bolong, sama sekali bukan masalah buat saya. Sudah terbiasa dengan terik matahari yang lebih panas soalnya. Teman-teman sepermainan sudah pada menjelma menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, hehe (sebenarnya gak juga sih. Dibenakku mereka tetap seperti yang terakhir kali saya temui, sulit merubahnya.


Welcome to Tolitoli, dulunya sering lewat sini tapi gak berasa apa-apa. Sekarang setelah 11 tahun meninggalkan kampung halaman. Rasanya semua tempat menjadi penting untuk diabadikan. Termasuk tempat ini.


Bendungan, Pertama kali lihat sungai Mahakam, saya langsung mengernyitkan dahi. Karena dibenak saya sungai itu identik dengan jernih dan banyak batu besarnya.

Tapi sayangnya, saya tidak bisa berlama-lama. Karena ada banyak hal yang masih harus saya selesaikan. Tinggal seminggu di Tolitoli untuk membayar kerinduan 11 tahun lamanya. Sungguh sangat tidak seimbang. Baru saja akan beranjak pergi, aku sudah merindukan kota ini. Semoga bisa pulang lagi tanpa harus menunggu 11 tahun kemudian.