Kamis, 20 Juli 2017

Mana yg lebih baik? Pengusaha atau karyawan

Banyak pengusaha di luar sana *Saya yakin bukan Anda* yang mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Karyawan. Dalihnya, karena hanya dengan menjadi Pengusaha bisa bermanfaat bagi banyak orang. Yakin?

Ingat…

"Tidak ada yang Lebih Mulia antara Pengusaha dan Karyawan kecuali mereka yang Bertaqwa kepada-Nya"

Nah, sekarang, banyak juga pengusaha yang awalnya niatnya untuk bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyak, malah justru sebaliknya.

Boro-boro kehidupannya dipenuhi dengan manfaat, yang ada justru malah terus Bermaksiat.

- Berbohong saat Negosiasi
- Janji Palsu saat Promosi
- Meninggalkan Sholat demi berjalannya Rapat
- Lupa Sedekah karena merasa diri lagi Bangkrut
- Cinta Dunia dan Melupakan Akhirat
- dan lain-lain

Alhasil, niatnya tidak sesuai dengan kenyataannya.

Katanya jadi pengusaha agar bisa…

- Sedekah Banyak karena Pendapatan Banyak
- Sholat Berjamaah dan tepat taktu, tanpa alasan ada Kerjaan
- Mengumrohkan dan menghajikan orang tua
- Membangun panti dan tempat ibadah
- Bermanfaat bagi sesama
- dan lain-lain

Nyatanya malah seringkali sebaliknya.

Mari kita sama-sama introspeksi diri, "Apakah bisnis yang sedang kita jalankan saat ini semakin mendekatkan kepada-Nya atau justru sebaliknya?"

Ingat…
"Bisnis yang Bagus bukan hanya bisnis yang Menghasilkan Uang saja, tapi semakin Mendekatkan Ownernya dengan Peciptanya"

Kalau sekiranya bisnis yang sedang kita jalankan ini lebih banyak madhorotnya, lebih baik jangan berbisnis saja.

Kuncinya: Pastikan yang kita Lakukan Diridhoi oleh Allah SWT.

Sepakat…?

Copas dari grup WA

Sabtu, 15 Juli 2017

Tabiat Buruk Hutang

9 Tabiat Buruk Hutang di Dunia :

1.Hutang bersifat candu (addicted), atau disebut juga hutang bikin nagih, sekali berhutang maka pelakunya akan ketagihan terus menerus jika tidak berniat berhenti berhutang.
2. Dosisnya akan bertambah, jika hari ini kita berhutang 500,000 maka setelah lunas akan berhutang 1 juta, seterusnya begitu
3. Hutang membuat pelakunya akan merasa tertekan dan depresi
4. Gelisah di malam hari, karena memikirkan hutang yang menumpuk dan tidak sanggup membayar
5. Terhina di siang hari, ketika banyak orang menagih namun kita tidak mampu membayar, maka orang akan meremehkan dan tidak mempercayai kita lagi, seperti tidak punya harga diri
6. Menjadi pribadi yang suka berdusta ketika berbicara, banyak berjanji tapi palsu
7. Pelaku hutang akan suka ingkar dalam berjanji, dijanjikan hari ini bayar hutang, ternyata tidak bayar
8. Menjadi tidak fokus dalam bekerja, karena fokus memikirkan banyaknya hutang
9. Hilangnya kemesraan dalam keluarga, karena stress maka tingkat emosi labil dan mudah marah

Dan 3 tabiat hutang di Akhirat adalah :

1. Bagi yang memiliki hutang hingga mati, maka kelak TIDAK akan mendapat SYAFAAT Rasulullah.2. Ruhnya akan tergadai
3. TIDAK Akan masuk surga meskipun mati dalam keadaan Syahid

Pada dasarnya Islam memperbolehkan hutang, tapi mengharamkan riba , dan jaman sekarang hampir semua hutang mengandung RIBA! 

Rabu, 12 Juli 2017

Metakognisi

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Oleh Prof. Rhenald Kasali

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.
Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.
Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding," ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.
Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif. 

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.

Jumat, 07 Juli 2017

Bahagia Itu Sederhana

Mendengar isteri cerewet di rumah , berarti aku masih punya isteri.
""""""""""""""""
Mendengar suami masih mendengkur di sebelahku berarti aku masih punya suami.
""""""""""""""""
Mendengar ayah dan ibu menegurku dengan tegas berarti aku masih punya ibu & ayah.
""""""""""""""""
Merasa letih dan jemu menasihati anak yang nakal , berarti aku masih punya anak yang mewarnai hidupku.
""""""""""""
Merasa letih setiap malam selepas bekerja , itu berarti aku masih mampu bekerja keras.

Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu di rumah , itu berarti aku punya teman.

Pakaianku terasa agak sempit , itu berarti aku makan cukup.

Mencuci dan menyetrika timbunan baju , itu berarti aku memiliki pakaian.

Membersihkan halaman rumah , mengepel lantai , itu berarti aku memiliki tempat tinggal.

Mendapatkan banyak tugas pekerjaan itu berarti aku dipercayai dapat melakukannya.

Mendengar bunyi klakson itu berarti aku masih bisa mendengar.

Mendengar kicau burung di pagi hari , itu berarti aku masih hidup.

Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari.

Copy from grup whats app

Perbedaan si sibuk dan si produktif

Dalam dunia kerja, kubu produktif dan ‘sok’ sibuk memang terlihat serupa. Namun, bila kamu mengamati dengan seksama, perbedaannya akan jelas terlihat. Untuk itu, mari kita kupas satu per satu.

Misi

Orang produktif selalu punya misi dalam hidupnya, sedangkan si sibuk selalu ingin terlihat memiliki misi. Si sibuk akan menyembunyikan keraguannya mengenai tujuan hidupnya dengan berlaku seolah-olah ia yakin pada tiap langkah yang ia ambil.

Sedangkan orang produktif, ia akan membiarkan orang lain melihat keraguan yang ia hadapi karena ia punya tujuan yang jelas.

Prioritas

Si sibuk akan punya banyak prioritas, sedangkan si produktif hanya punya beberapa. Kehidupan memang merupakan soal kehidupan. Tak ada satu orang pun yang terlalu sibuk, bila ia mau meluangkan waktu.

Bila kamu punya tiga prioritas, kamu punya prioritas. Namun, bila kamu punya 25 prioritas, maka kamu akan kacau.

Perumpamaannya adalah, orang produktif akan mencoba mengembangkan sistem yang lebih baik untuk membuat mobil, sedangkan si sibuk akan terus mencoba membuat mobil yang lebih baik.

Keputusan

Si sibuk akan cepat mengatakan ‘iya’ dan si produktif akan mengatakannya perlahan dan lebih lama. Definisi integritas versi Warren Buffet adalah, ‘Kamu akan bilang tidak hampir untuk segala hal’.

Bila kamu tidak mengatakan ‘tidak’ untuk sebagian besar hal, kamu hanya merepotkan dirimu sendiri. Integritas merupakan kejelasan dari nilaimu, dan waktu yang akan menjaganya.

Fokus

Orang sibuk hanya akan fokus pada aksi, sedangkan orang produktif akan fokus pada kejelasan sebelum aksi. Agar bisa fokus pada aktivitas, kamu harus punya kejelasan pada manfaat aktivitas itu untuk dirimu sendiri.

Sumber daya terbesar yang akan membantumu hidup dengan baik adalah pengalaman pribadimu sendiri. Sayangnya, tak banyak orang yang membuat dokumentasi pengalamannya sendiri, selain di sosial media.

Kamu bisa mulai membuat dokumentasi di diary, baik untuk pekerjaan, atau pribadi.

Kesempatan

Orang sibuk akan membuka semua pintu, sedangkan orang produktif akan menutup pintu. Ketika muda, memang baik untuk membuka diri pada apapun. Namun, akan ada kalanya dalam hidup, kamu perlu melepaskan sebagian besar pilihan dan fokus.
Copy from smart-money.co